[email protected]

(+62) 361 9082983

Pariwisata Konservasi Berbasis Masyarakat – “Yang Terancam Punah Menjadi Harta Bagi Masyarakat”

Lombok: Burung Pemangsa di sini merupakan spesies indikator kesehatan hutan hujan, yang populasinya mulai berkurang atau terancam punah di wilayah Taman Nasional Gunung Rinjani

Foto: Suparman

Pada lereng Gunung Rinjani – gunung berapi yang semi-aktif di Pulau Lombok, sebelah Timur Bali; Elang Flores, burung pemangsa yang terancam punah dan sedikit diketahui oleh khalayak, telah menjadi harta karun yang berharga bagi masyarakat sekitarnya, sebuah ‘panda’ – spesies kunci, untuk pariwisata burung/udara di Lombok. Setidaknya itu rencananya.

Elang Flores (Nisaetus floris), spesies burung pemangsa, merupakan endemic di beberapa wilayah di Nusa Tenggara – termasuk sekelompok populasi kecil di hutan dataran rendah di Taman Nasional Gunung Rinjani, sebuah area dimana [ekosistemnya] terancam rusak dengan aktivitas pembalakan serta pertanian komersial di daerah penyangga taman nasional tersebut.

Dikenal sebagai spesies ‘indikator’ atau ‘payung’, burung pemangsa ini merupakan ‘penjaga’ ataupun ‘barometer ekologi’ terhadap ekosistem hutan [yang ditinggalinya].

Burung pemangsa ini bergantung terhadap sokongan hutan sebagai penyedia sarang dan sumber makanan – yang menyediakan banyak sekali spesies kecil [sebagai sumber pangan] seperti ular, kadal, dan tupai. Di wilayah Gunung Rinjani sendiri, diperkirakan ada sekitar dua puluh pasang Elang Flores yang diketahui masih bersarang berdasarkan hasil riset terakhri – disandingkan dengan banyaknya laporan dari warga soal penampakan spesies tersebut, perburuan liar, dan membunuh spesies ini untuk melindungi ternak ayam mereka yang diburu.

Ketertarikan yang sangat kuat terlihat mulai meningkat terhadap wisata burung spesies asli Indonesia dari dunia global – sehingga Yayasan IDEP mengambil kesempatan untuk menginisiasikan program intervensi konservasi inklusif kepada masyarakat Lombok Utara, untuk mengembalikan dan memperbaiki lingkungan sekitar mereka dan melindungi Elang Flores – yang saat ini sudah mulai dianggap sebagai ‘harta karun masyarakat’.

Harta Berharga: Terdaftar dalam Daftar Merah IUCN sebagai spesies endemik terancam punah, hanya dapat ditemukan di wilayah Nusa Tenggara, Indonesia.

Program yang diusung oleh IDEP masih dalam pengimplementasian awal, IDEP Media telah membuat sebuah video documenter yang diproduksi pada awal tahun 2016. Sebagai materi kampanye edukatif terhadap status dan kegiatan konservasi Elang Flores – spesies endemik yang terancam punah, dan betapa pentingnya melindungi keberadaan spesies ini bagi lingkungan mereka, dan potensi munculnya mata pencaharian yang berkelanjutan – sebagai solusi alternatif untuk mengurangi angka pengangguran dan meningkatkan pendapatan mereka dikemudian hari.

Lihat di Youtube:

Penghasilan Yang Berkelanjutan di Masa Depan

Program IDEP “Yang Terancam Punah Menjadi Harta Bagi Masyarakat”, saat ini, telah melakukan beberapa capaian, yaitu melakukan perkenalan terhadap pendidikan konservasi, penanaman pohon [habitat Elang Flores], pengenalan terhadap pemberdayaan UKM – dan didirakannya menara pengawas burung dengan plank infografik [tentang Elang Flores] di gerbang masuk Taman Nasional Gunung Rinjani jalur Senaru – sebuah bangunan yang dapat digunakan untuk mengobservasi Elang Flores yang biasanya terbang menelusuri hutan dibawahnya. Tahap selanjutnya adalah IDEP ingin melakukan kegiatan pelatihan untuk para pemandu perihal konservasi burung dan penerjemahan dalam ekowisata.

Manajemen Sampah

Program konservasi inklusif ini juga bertujuan untuk menyediakan pelatihan dan penyediaan fasilitas untuk daur ulang sampah, guna mengedukasi pemandu pendakian dan wisata burung  dalam menjalankan prinsip sistem “Datang Membawa, Pulang Membawa” untuk semua kemasan yang akhirnya menjadi sampah – terutama plastik – untuk menghargai kecantikan Gunung Rinjani agar terlihat alami, hutannya, lanskap pegunungannya, hingga danau vulkanik yang paling sering dikunjungi oleh wisatawan – untuk membawa sampah mereka kembali ke pusat daur ulang di gerbang kantor taman nasional.

Kampanye inipun juga termasuk melakukan pendekatan edukasi ke sekolah-sekolah tentang konservasi hutan lindung dan perlindungan mahkluk liar di masa yang akan datang.

Kesuksesan pendekatan baru terhadap konservasi yang dilakukan IDEP akan terlihat dari meningkatnya kekayaan keanekaragaman hayati, habitat yang semakin sehat agar dapat melindungi margasatwa, air, iklim, hutan – dan manusianya!

Dukungan Pendanaan

Pendanaan dan dukungan sangat dibutuhkan saat ini agar kegiatan pelatihan daur ulang sampah, pengenalan satwa yang perlu dikonservasi, interpretasi bahasa untuk konservasi, serta pengembangan kewirausahaan bagi pemandu wisata burung lokal, terutama melibatkan suku sasak dan suku adat lainya agar dapat berkesinambungan dengan hukum adat, sebagai pemilik lahan dan yang memelihara hutan, burung, dan airnya.

Bantu kami untuk melaksanakan program wisata burung “Harta Berharga Masyarakat” di Gunung Rinjani, Lombok! Donasi sekarang atau kontak kami untuk Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya..

Referensi

BirdLife International (2016) Species factsheet: Nisaetus floris: http://www.birdlife.org/datazone/species/factsheet/22732096

Myers, S; Bishop, J. (2005) A Review of Historic and Recent Bird Records from Lombok, Indonesia:

https://www.researchgate.net/publication/242771459_A_review_of_historic_and_recent_bird_records_from_Lombok_Indonesia

 

IDEP Foundation | Helping People to Help Themselves

IDEP Foundation | Yayasan IDEP Selaras Alam
Membantu Masyarakat Mandiri
Br. Medahan, Desa Kemenuh, Sukawati
Gianyar - Bali
Telp. +62 361 9082983

 

IDEP di Instagram