[email protected]

(+62) 361 9082983

Perkuat Daya Dukung Lingkungan Bagi Kehidupan, IDEP dan Masyarakat Empat Desa di Nusa Penida Lakukan Penanaman Pohon

Tanggal 3 Februari 2019 lalu, IDEP bersama masyarakat melakukan kegiatan penanaman pohon bersama di seputaran area Pura Puseh, Desa Batumadeg, Nusa Penida. Masyarakat yang terlibat itu berasal dari perwakilan empat desa setempat, yaitu Banjar Mawan (Desa Batu Madeg), Dusun Batu Kandik 2 (Desa Bantu Kandik), Dusun Semaya (Desa Suana), Dusun Tanglad (Desa Tanglad). Selain perwakilan masyarakat yang berjumlah 120 orang itu, kegiatan ini juga dihadiri sejumlah perwakilan pemerintah lokal.

 

Pohon-pohon yang ditanam merupakan "tanaman upacara" yang buah dan bunganya digunakan sebagai sesajen dalam upacara keagamaan (Foto: Edward Angimoy)

 

Jenis pohon yang ditanam ketika itu bermacam-macam, mulai dari kelapa daksina, cempaka, sandat, nangka, cendana, andong, mengkudu, hingga intaran.  Uniknya, keseluruhan jenis pohon yang ditanam tersebut merupakan penghasil bahan-bahan untuk keperluan sesajen bagi upacara keagamaan masyarakat.

 

Di pulau yang mayoritas masyarakatnya memeluk agama Hindu itu, kebutuhan sesajen terbilang cukup tinggi setiap harinya. Apalagi ketika upacara-upacara besar tiba. Namun untuk memenuhi kebutuhan tersebut, masyarakat mesti merogoh kocek untuk membelinya dari pasar terdekat. “Kebutuhan untuk upacara diambil dari lahan pertanian yang kami miliki. Memang sudah ada. Misalnya, kelapa itu sudah ada. Buah-buahan juga. Tapi kurang. Akhirnya yang kurang itu kami beli di pasar,” ungkap I Wayan Rata, warga Desa Batumadeg.

 

Karena itu, seperti yang diungkapkan Muchamad Awal, Direktur Eksekutif IDEP, pohon-pohon yang ditanam itu diharapkan dapat memperkuat daya dukung lingkungan bagi kehidupan masyarakat Nusa Penida. Misalnya, dengan menanam jenis-jenis pohon tersebut secara mandiri, masyarakat setidaknya mendapat dua keuntungan sekaligus. Selain dapat memenuhi kebutuhan upacara tanpa perlu menambah pengeluaran, penambahan jumlah pohon yang ditanam itu juga dapat mengurangi dampak perubahan iklim yang makin hari makin mengkhawatirkan. Terutama bagi pulau seperti Nusa Penida yang tidak memiliki sumber air bersih memadai.

 

Kegiatan penanaman ini merupakan salah satu bagian dari program Peningkatan Kapasitas Masyarakat Melalui Pertanian Berkelanjutan Berbasis Permakultur yang dijalankan IDEP di Nusa Penida sejak Oktober 2018 silam. Dalam program ini, IDEP didukung Global Environmental Facility (GEF), Small Grants Program (SGP), UNDP, Yayasan Wisnu dan pemerintah Kabupaten Klungkung yang secara administratif menaungi Nusa Penida.

 

Sebagai gambaran umum, mata pencaharian utama masyarakat Nusa Penida adalah sebagai nelayan dan petani rumput laut. Pertanian konvensional tidak terlalu diminati karena kondisi tanah yang kering serta keterbatasan air seperti yang telah disinggung sebelumnya. Hal ini juga ditambah dengan minimnya kemampuan masyarakat terkait pengelolaan lahan kering. Selain sebagai nelayan dan petani rumput laut, sebagian masyarakat juga terlibat dalam bisnis pariwisata yang mulai ramai karena meningkatnya kunjungan wisatawan. Secara kasat mata, Nusa Penida memang mempesona dengan beberapa gua karst, tebing dan pemandangan ke Samudra Hindia, serta keragaman hayati lautnya.

 

Karena itu untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber daya lokalnya, IDEP terlebih dahulu memulai program ini melalui serangkaian pelatihan pembuatan kebun organik melalui metode permakultur di pekarangan keluarga. Hal itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehat rumah tangga di empat desa yang disebutkan di awal tadi.

 

Lewat metode permakultur yang telah berhasil dijalankan IDEP di beberapa wilayah di Indonesia, masyarakat diajak belajar mengelola lahan kering. Keterbatasan sumber air yang menjadi kendala disiasati dengan cara memberi lebih banyak unsur organik pada kebun yang didukung dengan sistem pengelolaan limbah dapur untuk mengairinya.

 

Agar menunjang keberlanjutan program ini ke depannya, lanjut Awal, masyarakat empat desa itu juga akan diajak untuk belajar dan praktik langsung tentang pembenihan (benih lokal) dan pembibitan. Dengan mampu melakukan dua hal tersebut, masyarakat diharapkan dapat meneruskan penanaman, baik untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga maupun kebutuhan upacara keagamaan.

 

I Wayan Rata, yang juga merupakan ketua kelompok tani Banjar Mawan, Desa Batumadeg, menanggapi kehadiran program ini dengan optimis. “Kalau bibit yang kami terima dari Yayasan IDEP ini nanti bisa panen, tentu sangat jelas berkurang pengeluaran kami, khususnya bagi ibu-ibu rumah tangga. Rasanya terbantu karena meringakan beban masyarakat.” Ia juga menambahkan harapannya agar program ini bisa berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan dasar bagi rumah tangga dan juga kebutuhan upacara keagamaan mereka.

 

Pohon yang ditanam dalam kegiatan tersebut berjumlah 220 pohon. Sebelum kegiatan penanaman itu dihelat, masyarakat juga telah menerima dan menanam 250 pohon dari berbagai jenis untuk kebutuhan upacara keagamaan di kebun-kebun mereka. Total pohon yang ditargetkan untuk ditanam masyarakat berjumlah 23 ribu pohon. Jumlah tersebut secara bertahap akan dipenuhi melalui proses pembibitan yang dilakukan masyarakat secara mandiri setelah didampingi IDEP. Selain itu, sebanyak 750 bibit pohon cendana dan intaran akan dipenuhi dari sumbangan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Unda Anyar, Bali, yang sangat antusias mendukung kegiatan ini. (Ed)

 

 
 
 

Berlangganan Buletin IDEP

Berikan bantuan yang akan merubah hidup. 100% mendanai proyek amal.

 

 

IDEP Foundation | Helping People to Help Themselves

IDEP Foundation | Yayasan IDEP Selaras Alam
Membantu Masyarakat Mandiri
Br. Medahan, Desa Kemenuh, Sukawati
Gianyar - Bali
Telp. +62 361 9082983

 

IDEP di Instagram